Stop Membaca Buku!!

Judulnya sangat provokatif bukan?? Tapi itu bukan ajakan untuk berhenti membaca lho! Membaca adalah wajib hukumnya bagi manusia untuk menambah ilmu, pengetahuan dan memperluas wawasan. Tapi kenapa kok harus “Stop Membaca Buku”? Bukankah buku adalah sumber ilmu pengetahuan? Betul!! Tapi buku bukanlah satu-satunya sumber ilmu, kan?

Yang saya maksud dengan buku di sini adalah buku dalam bentuk fisik yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas itu. Dan pastinya Anda tahu kertas terbuat dari kayu yang banyak tumbuh di hutan-hutan Indonesia. Dan Indonesia adalah salah satu negara penghasil kayu terbesar di dunia. Sehingga berjuta-juta hektar hutan dibabat secara illegal untuk keuntungan segelintir orang. Tetapi akibat negatifnya dirasakan oleh manusia seluruh dunia, yang biasa disebut dengan global warming.

Berapa banyak bencana alam terjadi dikarenakan pembabatan hutan ini? Mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan dll. Dan korban yang timbul tak terhitung lagi dari bencana-bencana ini.

Andai saja manusia tidak membaca buku. Mungkin kontribusi terhadap pelestarian lingkungan menjadi cukup berarti. Secara otomatis percetakan akan mengurangi cetak buku karena pembelinya berkurang atau sangat sedikit, karena manusia sudah tidak membaca buku lagi.

Terus bagaimana ilmu pengetahuan dan informasi dikemas bila tidak ada buku? Sangat mudah dan sangat simple. Dunia sudah begitu maju ada pengganti buku konvensional yang sangat murah dan tentu saja sangat ramah lingkungan. Kita tidak perlu bahan baku seperti kayu untuk membuat kertas. Karena kita cukup mencetaknya dalam bentuk digital.

Benda itu disebut dengan buku digital atau buku elektronik yang lebih popular dengan sebutan ebook.

Dengan ebook maka akan banyak keuntungan yang bisa didapatkan. Selain ramah lingkungan, tidak memerlukan tempat yang besar untuk menyimpannya dan tentu saja jauh lebih murah biaya produksinya. Sehingga harga jualnya pun bisa lebih murah. Dan masih banyak lagi keuntungan yang lain.

Tapi kan membaca ebook kurang  nyaman dibandingkan dengan buku konvensional. Siapa bilang? Sekarang sudah ada teknologi Eink yang membuat membaca ebook senyaman membaca buku. Apa itu teknologi Eink? Ikuti postingan berikutnya!

 

PS: Ini adalah pendapat pribadi dan dilihat dari satu sisi yaitu kontribusi buku terhadap perlindungan hutan!!

Iklan

3 Alasan E-book akan Menggantikan Buku

E-book dan media online) adalah sebuah media informasi seperti halnya buku, koran, majalah, tabloid dan media–media yang lain. Berdasarkan pemikiran saya, suatu saat nanti media-media yang berupa fisik seperti buku dan yang lainnya akan hilang digilas oleh perkembangan jaman dan teknologi.

Kenapa demikian?

Ada beberapa hal yang melandasi tergilasnya buku, dan E-book/media online akan menjadi media informasi dan ilmu pengetahuan utama, yaitu :

  1. Media informasi dan ilmu pengetahuan (buku, koran, majalah dll, red)  yang menggunakan bahan baku kertas semakin lama semakin mahal. Dari pengalaman selama ini tidak pernah namanya buku, dll makin kesini makin murah. Yang ada makin mahal, pasti. Kenapa semakin mahal karena biaya produksi dan bahan baku yang semakin mahal. Dilihat dari bahan baku. Bahan baku kertas adalah kayu yang digunakan untuk bubur kertas (pulp). Harga kayu semakin mahal karena hutan (sebagai penghasil kayu) yang makin menyusut luasnya. Belum lagi setiap negara memberlakukan pengawasan yang ketat terhadap penebangan hutan. Bagaimana bila hutan tidak ada lagi atau setiap negara melarang menebang kayu dengan alasan global warming? Bakal semakin mahal tuh buku. Atau malah lebih parah lagi buku tidak bisa diproduksi lagi karena tidak ada bahan baku.
  2. Setiap orang dewasa ini dan di masa yang akan datang menginginkan sesuatu yang simple dan praktis. Kita bisa memerlukan lemari atau tempat yang luas untuk menyimpan koleksi buku-buku/media fisik. Selain itu membawa buku kemana-mana pastinya selain berat, ribet tentunya tidak praktis. Berbeda dengan e-book, ribuan e-book yang kita miliki paling hanya memerlukan media sebesar jari tangan saja, yaitu flash disk. Cukup dimasukkan ke saku dan tentunya sangat ringan, hanya beberapa gram saja. Selain flash disk, media penyimpan lain pastinya adalah PC atau laptop. Hemat tempat dan sangat praktis.
  3. Media-media offline kini berbondong-bondong meng-online-kan diri. Tanda-tanda e-boook/media online akan menjadi informasi utama bisa kita lihat, seluruh media besar di seluruh dunia kini telah mempunyai media online (ambil contoh untuk Indonesia, Kompas, Bisnis Indonesia dll). Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti perusahaan-perusahaan itu hanya akan menggunakan media online. Sebagaimana halnya dengan detik.com.

Jadi persiapkan diri untuk menghadapi dunia informasi secara online. Mari kita menuliskan ide dan pengetahuan dan dituangkan dalam bentuk e-book atau media online. Karena dengan demikian kita telah membantu menyelamatkan hutan dan bertindak secara nyata untuk mengurangi efek global warming.

5 Keunggulan E-book Dibandingkan Buku

Kini teknologi informasi semakin maju. Di manapun kita berada, meski itu di sudut dunia, masih bisa berkomunikasi dengan manusia di pelosok dunia yang lain. Ya…internetlah yang bisa menghubungkan manusia dari ujung ke ujung dunia yang lain.

 

Pun untuk media informasi dan media berbagi ilmu pengetahuan, bila beberapa tahun yang lalu kita masih menggunakan media tersebut dalam bentuk fisik, yakni kertas, dalam bentuk buku, majalah Koran dan lain sebagainya. Maka sekarang medianya tidak harus kertas lagi. Atau mungkin di masa depan kita tidak akan menggunakannya lagi. Tapi medianya berubah dalam bentuk digital, Yaitu E-book, atau Buku Elektronik

 

Kenapa E-book?? Ada beberapa keunggulan media informasi dan pengetahuan dalam bentuk e-book.

  1. Karena formatnya dalam bentuk digital, e-book berupa softcopy bukan hard copy. Sehingga lebih ringkas tidak memerlukan tempat untuk menyimpan yang besar, seperti halnya buku, yang memerlukan rak/lemari dan ruangan untuk menyimpannya. E-book hanya memerlukan media penyimpanan seperti, hard disk dalam PC atau laptop, disket, CD dan sekarang ada Flash Disk yang bentuknya mungil dan bisa dibawa kemana-mana.
  2. Sistem pengiriman e-book sangat cepat, hanya memerlukan waktu beberapa menit bahkan dalam hitungan detik. Bandingkan bila kita mengirim buku, bisa memerlukan waktu berhari-hari.
  3. Media kirim e-book sangat praktis. Kita bisa mengirimkan e-book via email dan dalam hitungan detik sudah diterima oleh orang yang kita kirimi e-book. Atau kita bisa meng-upload di internet dan seluruh orang didunia bisa mengunduh (men-download)  e-book tersebut.
  4. Biaya untuk mencetak e-book sangat murah. Bahkan bisa jadi gratis kalau Anda telah memiliki computer yang ada program MS-Word dan PDF Writernya, dan biaya listrik dari computer diabaikan. Bandingkan bila kita mencetak buku dengan tebal 200 halaman sebanyak 1000 buku, biaya cetaknya saja bisa sekitar 10 juta rupiah… nilai yang sangat mahal bukan. Bila dibandingkan dengan cetak e-book yang hampir gratis, berapapun jumlah yang akan kita cetak hingga tidak terbatas, tidak akan menambah biaya cetak e-book.
  5. E-book anti rusak. Selama data kita tidak terserang virus, dan hal ini bisa dicegah dengan penggunaan computer yang hati-hati dan pemasangan software anti virus, maka e-book kita akan tetap bagus kondisinya meski usianya sudah puluhan tahun. Bandingkan dengan buku, yang mudah rusak, sobek, hilang, tulisannya pudar dan berjamur bila usia buku sudah tahunan.

 

Tapi sampai saat ini ada satu kekurangan dari e-book, yaitu Kenyamanan. Kita biasanya ingin membaca dalam kondisi nyaman, seperti sambil tiduran, santai di sofa, sambil duduk santai di taman. Seperti yang kita lakukan saat membaca buku. Saat membaca e-book kita harus di depan computer PC atau Laptop. Terkadang kita tidak kuat dengan menatap monitor berlama-lama. Atau punggung pegel-pegel karena duduk lama-lama di depan PC.

 

Tapi saya yakin suatu saat akan ada media untuk membaca e-book yang friendly, sehingga memberi kenyamanan saat membaca.

Medianya apa itu?? Baca terus di “Dunia Ebook”

Empat Alasan Penerbit Menolak Naskah Anda

Setiap penulis pasti mempunyai cita-cita untuk menerbitkan buku. Untuk penulis yang sudah jadi, atau sudah punya nama di blantika perbukuan bisa jadi itu adalah sesuatu yang mudah. Tapi beda halnya bagi penulis pemula. Penulis pemula biasanya sangat sulit untuk menembus dunia penerbitan buku. Ada banyak alasan kenapa penulis pemula kesulitan untuk bisa menerbitkan buku :

  1. Tidak dipungkiri bahwa menebitkan buku berkaitan dengan industri. Industri selalu berorientasi  profit  (keuntungan). Tentu saja penerbit akan memilih naskah dari penulis yang sudah dikenal oleh masyarakat untuk diterbitkan. Daripada naskah dari penulis pemula, yang tentu saja asing ditelinga salon pembeli buku.
  2. Secara umum penulis yang sudah senior mempunyai naskah yang lebih berkualitas dibandingkan penulis pemula. Walaupun teori ini tidak selalu benar. Bisa jadi penulis pemula mempunyai tulisan yang lebih berkualitas, menarik dan lebih baik dari penulis senior. Hanya kesempatan dan waktu yang belum melambungkan namanya.
  3. Penulis pemula biasanya kurang mengetahui trend pasar perbukuan yang sedang disukai di masyarakat. Penulis pemula menuliskan apa yang memang ingin dia tuliskan. Mereka kurang mengikuti apa yang sedang banyak diinginkan pasar. Itu sebabnya ketika penulis pemula mengirimkan naskahnya ke penerbit ditolak karena tidak sesuai selera pasar.
  4. Dan yang sangat umum terjadi adalah para penulis pemula kurang mengerti prosedur, syarat-syarat dan langkah-langkah dalam mengirimkan naskah ke penerbit sehingga naskah itu bisa diterbitkan.

 

Sebenarnya ada cara lain agar penulis bisa menerbitkan naskahnya. Yaitu dengan self publishing (menerbitkan sendiri). Dengan menerbitkan sendiri naskahnya, maka penulis sudah menghilangkan satu kendala. Yaitu ditolak oleh penerbit.

 

Hanya saja menerbitkan sendiri artinya modal untuk mencetak buku harus dikeluarkan dari kantong sendiri. Untuk sebuah buku yang harganya Rp. 40.000, biaya produksi termasuk cetak biasanya 25% dari harga buku. Bila kita cetak 1000 eksemplar maka diperlukan dana Rp. 10 juta. Itu belum termasuk lagi kita harus mengurusi distribusi dan urusan-urusan dengan toko buku dan pihak-pihak lain. Sudah terbayang bukan, repotnya!!!

 

Tetapi kini dunia sudah jauh berubah. Perkembangan teknologi informasi dan internet sudah sedemikian maju. Untuk para penulis ada cara yang sangat-sangat murah untuk menerbitkan naskah. Bahkan bisa jadi nol rupiah bila Anda telah mempunyai komputer dan listrik untuk menyalakan komputer tidak dianggap sebagai modal.

 

Ya…kita bisa menerbitkan naskah kita dalam bentuk e-book. E-book atau buku elektronik disebut juga buku digital bisa mengatasi kebuntuan kita untuk menerbitkan buku. Kita cukup mengubah naskah yang dalam betuk MS Word ke bentuk PDF. Dengan software PDF Creator yang bisa didownload gratis dari internet, kita sudah bisa menerbitkan naskah dalam bentuk e-book.

 

Kini tinggal untuk tujuan apa kita menerbitkan naskah itu? Kalau kita hanya ingin naskah kita dibaca oleh masyarakat umum tanpa menginginkan imbalan dalambentuk materi (uang). Maka kita tinggal upload di internet dan informasikan ke umum untuk mendownload naskah kita secara gratis.

 

Tetapi kalau tujuan kita selain menyebarkan ilmu dan informasi dari naskah  kita, juga menginginkan imbalan berupa materi (uang). Maka kita bisa menjualnya di internet. Dengan bermodalkan koneksi internet maka kita sudah bisa menjadikannya sebagai bisnis milik sendiri.

Bagaimana Menerbitkan Naskah tanpa berurusan dengan Penerbit?

Bagaimana Menjadikan Naskah kita sebagai Bisnis Mandiri milik Sendiri?